Bagaimana Anda mendesain HMI untuk operator industri? Biasanya HMI akan didesain oleh engineer berdasar kebutuhan pengguna, dengan sedikit perhatian dari sisi desain.
Beberapa minggu yang lalu saya membaca workbook dari Siemens yang sangat baik tentang “Seven Steps to Good HMI Design“. Dokumen tersebut menarik, karena melibatkan aspek – aspek desain yang kental. Dalam posting ini saya ingin menyampaikan sedikit ringkasan dan pelajaran yang saya dapatkan dari workbook tersebut.
Ada 7 langkah yang disarankan untuk mendesain industrial HMI yang baik:

1. Rethinking HMI Design
Desain tidak hanya untuk keindahan belaka, namun desain ialah aspek visual ditambah dengan fungsi. Keindahan tanpa fungsi menjadikan desain tidak bermanfaat.
design = visual aspects + function
Demikian juga saat membuat desain untuk operator industri, tujuan utama HMI designer bukanlah keindahan, atau 3D visual belaka, namun apakah aspek visual itu memenuhi tujuan untuk mempermudah tugas operator.
2. Understanding Contexts
Bagian berikutnya ialah memahami konteks dimana HMI akan digunakan. HMI designer perlu berkomunikasi dengan pihak customer untuk memahami bagaimana HMI akan difungsikan dalam suatu proses di pabrik. Interview dengan calon pengguna (dari berbagai tingkatan, misal: manajer, supervisor, operator) juga perlu dilakukan sehingga untuk dapat mendesain HMI dengan tepat. Contoh sederhananya, jika ada istilah pada HMI berbahasa Inggris, apakah hal tersebut akan membantu operator atau tidak?
Terkait konteks, ada 2 hal yang merupakan konteks bagi HMI:
- Device atau panel (hardware HMI)
- Kondisi kerja operator (konteks untuk operator)
Setelah itu kita perlu menemukan pain points dari user, sehingga HMI akan membantu dia mengurangi \”rasa sakit\” tersebut. Ingat, HMI yang buruk juga akan menambah kesulitan dari user.
Siemens menyarankan digunakannya semacam form interview terhadap real users yang mencakup: task, content, dan pain points dari orang tersebut. Hal ini diharapkan dapat memberi informasi terkait konteks suatu HMI.
3. Drawing the big picture
Pada bagian ini, disarankan untuk membuat desain awal dengan pensil dan kertas secara manual. Saat mendesain di awal, kita perlu memperhatikan hal – hal yang umum terlebih dahulu, seperti: berapa jumlah halaman HMI dan apa jenisnya. Halaman utama HMI dan hubungannya dengan halaman – halaman lain (secara konsep) perlu dirancang kemudian. Hal ini dianalogikan dengan merancang arsitektur sebuah rumah.

Setelah layout umum, kita bisa masuk ke dalam masing – masing halaman dengan lebih detail. Bagaimana struktur halaman, apa fungsi halaman, obyek apa yang harus ada, berapa ukurannya, dst. Kita juga mulai bisa merancang menu dan action areas dari halaman HMI tersebut.
Dalam mendesain, kita perlu dengan konsisten memposisikan bagian – bagian tertentu. Misalnya: tombol OK, NEXT, BACK, sebaiknya selalu ada di tempat yang sama di setiap halaman. Hal ini akan membantu operator untuk cepat terbiasa dengan tampilan HMI.
4. Conceptualizing the visual aspects
Pada bagian ini kita mulai merubah desain di atas kertas kita menjadi tampilan HMI dalam program komputer. Gunakanlah template jika tersedia, dan lakukan perubahan yang diperlukan setelahnya. Jangan dulu memikirkan pewarnaan atau style, namun lebih fokus pada fungsi halaman dan obyek – obyek pada halaman tersebut.

Pastikan kita tidak meletakkan terlalu banyak obyek dalam satu halaman. Hal ini dapat membuat informasi tidak dapat dilihat operator dengan baik, dan banyak distraksi bagi operator. Pastikan obyek – obyek dalam halaman dikelompokkan sesuai fungsinya atau jenisnya. Jarak antar obyek tidak boleh terlalu jauh (jika obyek – obyek tersebut ialah 1 kelompok) atau terlalu dekat (sehingga membuat mata operator lebih mudah lelah).
5. Desining the Interaction
Bagian ini berbicara tentang interaksi antara HMI device dan manusia. Mula – mula, pastikan user dapat melakukan semua fungsi yang diperlukan melalui menu. Kedua, kita perlu mengatur workflow untuk user, sehingga fungsi – fungsi kompleks dapat dibagi – bagi menjadi fungsi yang lebih sederhana.

Selain itu, berikan informasi solusi pada pengguna, jika ada kesalahan pada sistem. Kita juga perlu mencegah user untuk melakukan kesalahan, misalnya dengan memberikan informasi (masukkan angka: 0 – 100). User juga perlu dicegah untuk melakukan klik yang tidak disengaja, dan dapat berakibat fatal pada sistem keseluruhan. Terakhir, sediakanlah sistem Help sederhana pada HMI anda.
6. Testing prototypes
Pada bagian ini, prototipe HMI telah siap, dan kita perlu melakukan pengujian dengan users (off-site dan on-site) untuk mendapatkan saran perbaikan, ataupun menemukan kesalahan dari HMI. Pengetesan perlu dilakukan seawal mungkin dan sesering mungkin, sehingga didapatkan hasil yang terbaik. Dokumentasi sistem yang baik juga perlu disiapkan di sini.
7. Styling and finalizing
Setelah HMI telah berfungsi dengan baik, maka pada tahapan akhir kita akan melakukan:
- Koreksi dan optimasi berdasarkan feedback yang diberikan selama testing
- Graphical styling, final fine tuning, dan penambahan detail visual yang lain
- Merencanakan rollout/launching dan komunikasi akhir dengan pengguna
Graphical styling di sini meliputi penyesuaian warna dengan warna perusahaan, penggunaan effects pada obyek (misalkan gradient), penggunaan icons, ataupun penambahan logo perusahaan.

Launching dan komunikasi akhir yang baik dengan pengguna dapat meningkatkan kepercayaan pengguna. Pastikan untuk mengkomunikasikan nilai tambah yang diberikan oleh HMI yang telah kita rancang.
Demikian ringkasan yang saya buat, semoga bermanfaat!
Catatan: tulisan ini merupakan ringkasan dan terjemahan bebas dari “HMI Design Workbook – Seven Steps to Good HMI Design, Siemens“
